Manusia
dan Keindahan
Keindahan adalah identik dengan
kebenaran. Keindahan adalah kebenaran,
dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi,
dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah, yang tidak mengandung kebenaran
berarti tidak indah. Karena itu tiruan lukisan monalisa tidak indah karena pada
dasarnya tidak benar. Keindahan juga bersifat universal artinya tidak terkait
oleh selera perorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan atau lokal.
Berbicara tentang keindahan mau tak
mau kita harus menengok jauh ke belakang yaitu pada jaman yunani kuno, abad
ke-18. Pada saat itu pengertian keindahan telah di pelajari oleh para filsuf.
Menurut the Liang Gie dalam bukunya “ Garis Besar Estetik” (Filsafat Keindahan)
dalam bahasa inggris keindahan itu di terjemahkan dengan “beautiful”, Prancis
“beau”, Italia dan Spanyol “bello”, kata-kata itu berasal dari bahasa latin
“bellum”. Akar katanya adalah “bonum”, yang berarti kebaikan kemudian mempnyai
bentuk pengecilan menjadi “bonellum” dan terakhir di pendekan sehingga di tulis
“bellum”.
Menurut cakupannya orang harus
membedakan antara keindahan sebagai suatu kualitas abstrak dan sebagai sebuah
benda tertentu yang indah. Untuk membedakan ini dalam bahasa inggris sering di
gunakan istilah “beauty” (keindahan) dan “the beautiful” (benda atau hal yang
indah). Dalam pembahasan filsafat kedua pengertian itu kadang-kadang di campur
adukkan saja. Selain itu menurut luas nya di bedakan pengertian :
1. Keindahan
dalam arti luas. Keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan.
Jadi pengertian yang seluas luasnya meliputi: keindahan seni, keindahan alam,
keindahan moral, keindahan intelektual.
2. Keindahan
dalam arti estetik murni. Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut
pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang di
serapnya.
3. Keindahan
dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan. Keindahan dalam arti
terbatas mepunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut
benda-benda yang dapat di serap penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan
warna.
Dari
pembagian dan pembedaan terhadap keindahan
tersebut di atas masih belum jelas apakah sesungguhnya keindahan itu.
Ini memang persoalan filsafati yang jawabannya beraneka ragam. Salah satu
jawabannya ialah mencari ciri-ciri umum yang ada pada semua benda atau kualitas
hakiki atau dengan pengertian keindahan.
Jadi keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualitas pokok tertentu yang
terdapat pada suatu hal. Kualitas yang paling sering disebut adalah kesatuan
(unity), keseimbangan (balance), dan kebaikan (contrast).
Dari ciri itu dapat di ambil
kesimpulan bahwa keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebaikan
garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat bahwa
keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda
dan di antar benda itu dengan si pengamat.ada juga yang merumuskan keindahan
sebagai kesatuan hubungan-hubungan yang terdapat antara penyerapan-penyerapan
indera kita.
Ternyata untuk menjawab “apakah
keindahan itu” bayak sekali jawabannya. Karena itu dalam estetika modern orang
lebih suka tentang seni dan pengalaman estetika karena ini bukan pengalaman
abstrak melainkan gejala konkret yang dapat di telaah dengan pengamatan secara
empirik dan penguraian yang sistematik.
Pengertian keindahan dianggap
sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomi, niali
pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang
tercakup dalam pengertian keindahan di sebut niali estetik.
Jadi dalam penjelasan ini menjadi
jelas bahwa hubungan Manusia dengan Keindahan. Dapat di simpulkan keindahan
berasal dari kata “indah” berarti bagus, permai, cantik, molek, dan sebagainya.
Benda yang mengandung keindahan adalah segala hasil seni dan alam semesta
ciptaan Tuhan. Sangat luas kawasan keindahan bagi manusia. Karena itu kapan,
dimana, dan siapa saja dapat menikmari keindahan. Keindahan identik dengan
kebenaran. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi dia mempunyai daya
tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak
indah dan keindahan bersifat universal. Dan dapat di ambil kesimpulan pula
bahwa keindahan tersusun dari keselarasan dan pertentangan dari garis , warna,
bentuk, nada dan kata-kata.
Definisi keindahan sangat luas,
karena itu dalam estetik modern orang lebih suka berbicara tentang seni dan
estetika, karena itu merupakan gejala konkret yang dapat ditelaah dengan
pengalaman secara empirik dan penguraian sistematik.
Nilai estetik : nilai berarti
kebenaran atau kebaikan. Nilai estetik sesuatu adalah semata-mata realita
psikologik yang harus di bedakan secara tegas dari kegunaan, karena terdapat
pada jiwa manusia dan bukan pada bendanya itu sendiri.
Nilai ini ada yang membedakan antara
nilai subjektif dan nilai objektif. Ada lagi nilai perseorangan dengan nilai
kemasyarakatan. Penggolongan yang lebih penting ialah nilai ekstrimsik dan
nilai intrinsik. Nilai ekstrinsik di pandang dari bendanya sedangkan nilai
instrinsik dari isinya.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Mohtar Hadi, dkk.,Ilmu Budaya Dasar,UNS,
Surakarta,1986.
2.
Suryadi M.P., Drs., Buku Materi Pokok
Ilmu Budaya Dasar,Universitas Terbuka, Jakarta, 1985.
3.
Hoegiono,drs., Ilmu Budaya Dasar dan
PKLH, IKIP Semarang Press, 1990.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar