Jumat, 04 April 2014


Manusia dan Keindahan

            Keindahan adalah identik dengan kebenaran. Keindahan adalah  kebenaran, dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah, yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Karena itu tiruan lukisan monalisa tidak indah karena pada dasarnya tidak benar. Keindahan juga bersifat universal artinya tidak terkait oleh selera perorangan, waktu dan tempat, selera mode, kedaerahan atau lokal.
            Berbicara tentang keindahan mau tak mau kita harus menengok jauh ke belakang yaitu pada jaman yunani kuno, abad ke-18. Pada saat itu pengertian keindahan telah di pelajari oleh para filsuf. Menurut the Liang Gie dalam bukunya “ Garis Besar Estetik” (Filsafat Keindahan) dalam bahasa inggris keindahan itu di terjemahkan dengan “beautiful”, Prancis “beau”, Italia dan Spanyol “bello”, kata-kata itu berasal dari bahasa latin “bellum”. Akar katanya adalah “bonum”, yang berarti kebaikan kemudian mempnyai bentuk pengecilan menjadi “bonellum” dan terakhir di pendekan sehingga di tulis “bellum”.
            Menurut cakupannya orang harus membedakan antara keindahan sebagai suatu kualitas abstrak dan sebagai sebuah benda tertentu yang indah. Untuk membedakan ini dalam bahasa inggris sering di gunakan istilah “beauty” (keindahan) dan “the beautiful” (benda atau hal yang indah). Dalam pembahasan filsafat kedua pengertian itu kadang-kadang di campur adukkan saja. Selain itu menurut luas nya di bedakan pengertian :

1.      Keindahan dalam arti luas. Keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Jadi pengertian yang seluas luasnya meliputi: keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, keindahan intelektual.

2.      Keindahan dalam arti estetik murni. Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang di serapnya.

3.      Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan. Keindahan dalam arti terbatas mepunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat di serap penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna.

Dari pembagian dan pembedaan terhadap keindahan  tersebut di atas masih belum jelas apakah sesungguhnya keindahan itu. Ini memang persoalan filsafati yang jawabannya beraneka ragam. Salah satu jawabannya ialah mencari ciri-ciri umum yang ada pada semua benda atau kualitas hakiki atau  dengan pengertian keindahan. Jadi keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualitas pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal. Kualitas yang paling sering disebut adalah kesatuan (unity), keseimbangan (balance), dan kebaikan (contrast).
            Dari ciri itu dapat di ambil kesimpulan bahwa keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebaikan garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antar benda itu dengan si pengamat.ada juga yang merumuskan keindahan sebagai kesatuan hubungan-hubungan yang terdapat antara penyerapan-penyerapan indera kita.
            Ternyata untuk menjawab “apakah keindahan itu” bayak sekali jawabannya. Karena itu dalam estetika modern orang lebih suka tentang seni dan pengalaman estetika karena ini bukan pengalaman abstrak melainkan gejala konkret yang dapat di telaah dengan pengamatan secara empirik dan penguraian yang sistematik.
            Pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomi, niali pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan di sebut niali estetik.
            Jadi dalam penjelasan ini menjadi jelas bahwa hubungan Manusia dengan Keindahan. Dapat di simpulkan keindahan berasal dari kata “indah” berarti bagus, permai, cantik, molek, dan sebagainya. Benda yang mengandung keindahan adalah segala hasil seni dan alam semesta ciptaan Tuhan. Sangat luas kawasan keindahan bagi manusia. Karena itu kapan, dimana, dan siapa saja dapat menikmari keindahan. Keindahan identik dengan kebenaran. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi dia mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah dan keindahan bersifat universal. Dan dapat di ambil kesimpulan pula bahwa keindahan tersusun dari keselarasan dan pertentangan dari garis , warna, bentuk, nada dan kata-kata.
            Definisi keindahan sangat luas, karena itu dalam estetik modern orang lebih suka berbicara tentang seni dan estetika, karena itu merupakan gejala konkret yang dapat ditelaah dengan pengalaman secara empirik dan penguraian sistematik.
            Nilai estetik : nilai berarti kebenaran atau kebaikan. Nilai estetik sesuatu adalah semata-mata realita psikologik yang harus di bedakan secara tegas dari kegunaan, karena terdapat pada jiwa manusia dan bukan pada bendanya itu sendiri.
            Nilai ini ada yang membedakan antara nilai subjektif dan nilai objektif. Ada lagi nilai perseorangan dengan nilai kemasyarakatan. Penggolongan yang lebih penting ialah nilai ekstrimsik dan nilai intrinsik. Nilai ekstrinsik di pandang dari bendanya sedangkan nilai instrinsik dari isinya.


DAFTAR PUSTAKA
1.      Mohtar Hadi, dkk.,Ilmu Budaya Dasar,UNS, Surakarta,1986.
2.      Suryadi M.P., Drs., Buku Materi Pokok Ilmu Budaya Dasar,Universitas Terbuka, Jakarta, 1985.
3.      Hoegiono,drs., Ilmu Budaya Dasar dan PKLH, IKIP Semarang Press, 1990.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar