BUDAYA
MUDIK DALAM MASYARAKAT INDONESIA
Budaya mudik atau pulang
kampung merupakan merupakan fenomena dalam masyarakat indonesia. Pulang mudik
sekali setahun tidak hanya sekedar melepas kerinduan pada kampung halaman
tetapi mengandung makna yang jauh lebih dalam dari itu. Memang ada berbagai
alasan mengapa orang balik mudik lebaran. Namun, fenomena mudik jelas berkaitan
erat dengan alasan kultural yang menyangkut tiga hal pokok, yaitu kebutuhan
kultural untuk mengunjungi orang tua dan keluarga, berziarah ke makam, dan
menilik warisan tinggalan keluarga di tempat asal.
Pulang ke kampung halaman bagi para pemudik bukan hanya sebatas untuk merayakan Lebaran bersama keluarga, tetapi juga untuk menghilangkan kepenatan beban kerja. Kerasnya kehidupan kota, bisingnya kota dan berbagai tekanan kerja lainnya membuat para migran ini mengalami stres di tempat kerja, sementara keluarga yang menjadi tempat berbagi rasa jauh darinya. Tenangnya suasana kampung halaman, sejuknya alam pedesaan, ramahnya keluarga dan kerabat menjadi alasan yang tidak dapat ditolak untuk tidak mudik. Nostalgia kehidupan keluarga di kampung halaman juga menjadi salah satu obat mujarab untuk menghilangkan stres bagi masyarakat migran kota.
Pulang ke kampung halaman bagi para pemudik bukan hanya sebatas untuk merayakan Lebaran bersama keluarga, tetapi juga untuk menghilangkan kepenatan beban kerja. Kerasnya kehidupan kota, bisingnya kota dan berbagai tekanan kerja lainnya membuat para migran ini mengalami stres di tempat kerja, sementara keluarga yang menjadi tempat berbagi rasa jauh darinya. Tenangnya suasana kampung halaman, sejuknya alam pedesaan, ramahnya keluarga dan kerabat menjadi alasan yang tidak dapat ditolak untuk tidak mudik. Nostalgia kehidupan keluarga di kampung halaman juga menjadi salah satu obat mujarab untuk menghilangkan stres bagi masyarakat migran kota.
Karena itulah, para pemudik
menjadi tidak peduli dengan banyaknya energi yang harus dikeluarkan, seperti
harus antre berhari-hari untuk bisa mendapatkan tiket dan dalam perjalanan
harus melewati medan yang berat serta tingginya risiko yang harus dihadapi,
seperti kecelakaan dan kriminalitas. Mereka pun yakin bahwa dengan
bersilaturahim di kampung halaman bersama anggota keluarga dan handai taulan,
mereka akan menemukan kembali jati dirinya dan menimba kembali semangat dan
kekuatan baru untuk menjadi penangkal dan senjata dalam menghadapi realitas
kerasnya persaingan dalam kehidupan di kota nanti.
Dalam kesempatan ini saya
akan menjelaskan sedikit tentang:
1. Permasalahan
yang ditimbulkan dari budaya mudik.
2. Tujuan
Mudik.
3. Dampak
Positif.
4. Dampak
Negatif.
5. Kesimpulan.
Permasalahan yang ditimbulkan dari mudik antara lain:
1. Besarnya
jumlah pemudik yang puncaknya diperkirakan dua tiga hari menjelang Idul Fitri,
telah menimbulkan permasalahan yang tidak mudah dipecahkan, karena dalam waktu
yang hampir bersamaan puluhan juta orang
melakukan perjalanan mudik, melalui darat dengan kendaraan sepeda motor, mobil,
kendaraan umum (bus) dan kereta api,
serta udara dengan kapal terbang, dan laut dengan kapal laut.
2. Banyaknya
kecelakaan lalulintas. .Dari tahun ke tahun, terus meningkat angka kecelakaan.
Kecelakaan paling banyak ialah pengendara sepeda motor. Faktor kecelakaan
banyak disebabkan oleh faktor manusia, kendaraan, jalan raya, dan cuaca.
Walaupun tinggi angka kecelakaan, para pemudik tidak kapok dengan bahaya maut yang dihadapi.
3. Berutang
dan menggadaikan barang demi mendapatkan uang untuk biaya mudik. Ini merupakan permasalahan dan tantangan
yang setiap tahun dijalani sebagian pemudik. Demi mudik ke kampung halaman,
mereka berutang dan menggadaikan barang.
4. Biaya
perjalanan meningkat berlipat kali, karena semua moda transportasi menaikkan
biaya menjelang dan sesudah lebaran Idul Fitri, sehingga para mudik sebagian
besar menggunakan kendaraan sepeda motor, walaupun tingkat kecelakaan sangat
tinggi dari tahun ke tahun.
Tujuan
Mudik :
1. Dorongan
keagamaan yang telah menjadi budaya.
Begitu kuat tarikan keagamaan yang telah menjadi budaya, karena Islam
mengajarkan bahwa mereka yang sudah berpuasa akan diampuni dosa-dosanya. Akan tetapi, yang diampuni hanya dosa
dihadapan Allah, sedang dosa kepada orang tua, saudara kandung, tetangga dan
sekampung, tidak akan diampuni kecuali saling bermaaf-maafan dengan jabat
tangan melalui silaturrahim antara satu dengan yang lain.
2. Ziarah
ke kubur, Telah menjadi budaya dikalangan masyarakat bahwa menjelang puasa
Ramadan dan lebaran Idul Fitri, anak-anak, menantu, keluarga dan famili pergi
berziarah ke kubur orang tua, kakek, nenek dan leluhur serta keluarga terdekat
sambil mendoakan. Itu tidak mungkin
dilakukan kalau tidak mudik.bagi mereka yang berasal dari kampung. Maka kesempatan lebaran Idul Fitri dilakukan
ziarah ke kubur, disamping silaturrahim.
3. Rindu
kampung halaman. Setiap tahun kerinduan
kepada kampung halaman selalu diobati dengan mudik. Ini adalah fenomena sosial yang menarik
sebagai makhluk sosial, rindu kepada
asal usulnya dikampung halaman. Oleh karena itu, tantangan berat yang dihadapi
untuk pulang kampung, tidak menjadi persoalan, mereka tetap lakoni dengan penuh
kegembiraan dan kebahagiaan.
4. Bernostagiadikampung
halaman. Masa kecil dikampung halaman adalah masa-masa yang paling indah dan
menyenangkan. Maka setiap tahun, kenangan indah itu, selalu ingin diperbaharuai
dengan pulang kampung sambil membawa keluarga seperti anak, menantu dan isteri
supaya ikut menghayati suasana kampung di masa dahulu, baik isteri mapun suami.
5. Unjuk diri
kesuksesan di perantauan. Hal itu, ikut juga mewarnai perasaan sebagian pemudik untuk
pulang kampung. Budaya pamer berlaku
kepada semua tingkatan sosial. Maka momentum lebaran Idul Fitri, pulang kampung dengan niat yang
bermacam-macam, salah satu adalah unjuk diri (pamer).
Dampak Positif :
1. Dampak
ekonomi. Mudik para perantau telah menimbulkan dampak positif bagi ekonomi di
kampung halaman. Mereka pulang dengan
membawa uang dan berbelanja telah mendorong perputaran ekonomi yang tinggi di
kampung, sehingga para petani, nelayan dan pemerintah daerah mendapat manfaat
ekonomi. Mereka menyewa hotel dan
penginapan, telah mendorong kemajuan kampung halaman karena membuka dan
memajukan bisnis penginapan dan hotel .
Belum lagi, pemudik member sedekah, zakat fitrah dan zakat harta (mal)
kepada keluarga dan penduduk di kampung halaman mereka.
2. Silaturrahim
(hubungan kasih sayang) antara pemudik dan penduduk kampung terbangun kembali,
yang selama hampir satu tahun tidak pernah bertemu. Ini sangat positif untuk
memelihara, merawat dan menjaga bangunan kebersamaan satu kampung.
3. Persatuan
dan kesatuan terjaga dan terpelihara. Bangsa Indonesia yang amat tinggi rasa
keagamaan (religiousitas)nya, telah member andil yang besar untuk menjaga,
merawat dan memupuk rasa persatuan dan kesatuan seluruh bangsa Indonesia
melalui medium silaturrahim Idul Fitri. Hal ini, tidak bisa dinilai dengan
pengorbanan harta dan tenaga yang dilakukan para pemudik.
4. Pengamalan
agama. Peristiwa mudik lebaran, juga
mempunyai dampak positif dalam pengamalan ajaran Islam, karena ditengah
kemajuan yang membawa manusia kepada prilaku individualistik, yang enggan
berhubungan dengan pihak lain dan merasa terganggu, melalui mediaum
silaturrahim dalam rangka hubungan manusia (hablun minannaas) tetap diamalkan,
dan bahkan telah menjadi budaya seluruh bangsa Indonesia.
Dampak Negatif :
1. Pamer
kemewahan, boros dan berbagai perilaku yang tidak sepenuhnya sesuai dengan
ajaran Islam dan tujuan puasa itu sendiri, di mana hasil puasa selama sebulan
penuh, seharusnya semakin menghadirikan ketakwaan yaitu kedekatan kepada Allah
dan sesama manusia yang sebagian besar masih mengalami kesulitan hidup. Mereka
masih dihimpit kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.
2. Bisa
mengundang cemburu dan irihati para penduduk kampung. Pulangnya para pemudik untuk berlebaran di
kampung halaman, dengan memamerkan kemewahan misalnya mobil yang bagus, baju
dan sepatu yang baru, bisa menimbulkan “cultural shock” (goncangan budaya), di
mana orang-orang kampung atau desa meniru dan mengikuti cara hidup orang kota
yang pulang kampung, misalnya berhutang dan atau menjual harta benda seperti
tanah untuk membeli motor, mobil dan sebagainya sebagai asesori kemewahan. Bisa juga orang-orang kampung terutama
anak-anak muda, laki-laki dan perempuan merantau- dalam rangka mengikuti jejak
para pemudik. Untuk mendapatkan harta dan kemewahan, mereka menghalalkan segala cara untuk
mendapatkan uang dan harta, supaya tahun berikutnya, mereka juga bisa mudik dan
menampilkan kekayaan dan kemewahan seperti saudara-saudaranya yang mudik tahun
lalu.
3. Memacu
urbanisasi dan migrasi. Mudik lebaran,
juga bisa berdampak negatif yang memacu peningkatan urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari kampung atau
desa ke berbagai kota di Indonesia.
Selain itu, juga dapat mendorong meningkatnya migrasi, yaitu perpindahan
penduduk dari satu negara ke negara
lain.
4. Dalam
sejarah mudik lebaran, sudah terbukti bahwa usai mudik lebaran, semakin banyak
orang kampung yang melakukan urbanisasi, meninggalkan kampung halamannya untuk
mencari kehidupan di kota.
Kesimpulan :
Peristiwa
mudik lebaran yang telah menjadi budaya, harus terus dipelihara, dijaga dan
dilestarikan, karena dampak positifnya lebih banyak ketimbang dampak
negatifnya.Yang harus dilakukan ialah mengurangi dampak negatif mudik dengan
melakukan.
1. Meningkatkan
kesadaran para pemudik bahwa keselamatan dalam perjalanan mudik adalah
segalanya. Mereka yang akan mudik, dan sedang perjalanan mudik, diharapkan
semakin hati-hati menjaga keselamatan. Jangan memaksakan diri dalam perjalanan,
harus berhenti dan beristirahat secukupnya baru melanjutkan lagi perjalanan. Pada tahun-tahun mendatang, mudik dengan
kendaraan bermotor secara bertahap harus dihentikan dengan menitipkan
kendaraannya di kapal laut, dan kereta api untuk dihantar ke kampung halaman.
Suami isteri, dan dan anak-anak,
sebaiknya memilih kendaraan umum, kereta api atau kapal laut untuk keselamatan
dalam perjalanan mudik.
2. Pemerintah
harus terus meningkatkan penyediaan transportasi massal untuk melayani pemudik.
Selain itu, berbagai perusahaan yang peduli pemudik, dari
jauh hari harus bekerjasama dengan media untuk memberitahu masyarakat
tentang adanya penyediaan fasilitas mudik.
3. Para
pemudik harus membuat perencanaan paling kurang tiga bulan sebelum mudik sudah
memesan tiket dan menghubungi perusahaan atau organisasi yang biasa
menyelenggarakan mudik bareng secara gratis.
4. Pemerintah
terutama Kementerian Pekerjaan Umum RI, sudah saatnya membuat jalan yang
berkualitas tinggi untuk jangka waktu yang panjang. Jangan seperti sekarang
setiap tahun, jalan raya yang dilalui pemudik dilakukan tambal sulam dan tidak
pernah baik.
5. Sudah
saatnya seluruh bangsa Indonesia terutama para pemudik meningkatkan disiplin
dalam berlalulintas. Pada saat yang
sama, aparat kepolisian sebagai aparat penegak keamanan, menindak mereka yang
tidak disiplin dalam berlalu lintas.
Inilah sedikit
penjelasan dari saya mengenai Budaya Mudik dalam Masyarakat Indomesia. Bila ada
salah-salah kata dan kesalahan penulisan mohon di maafkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar