Senin, 06 Januari 2014

BUDAYA MUDIK DALAM MASYARAKAT INDONESIA

Budaya mudik atau pulang kampung merupakan merupakan fenomena dalam masyarakat indonesia. Pulang mudik sekali setahun tidak hanya sekedar melepas kerinduan pada kampung halaman tetapi mengandung makna yang jauh lebih dalam dari itu. Memang ada berbagai alasan mengapa orang balik mudik lebaran. Namun, fenomena mudik jelas berkaitan erat dengan alasan kultural yang menyangkut tiga hal pokok, yaitu kebutuhan kultural untuk mengunjungi orang tua dan keluarga, berziarah ke makam, dan menilik warisan tinggalan keluarga di tempat asal.

            Pulang ke kampung halaman bagi para pemudik bukan hanya sebatas untuk merayakan Lebaran bersama keluarga, tetapi juga untuk menghilangkan kepenatan beban kerja. Kerasnya kehidupan kota, bisingnya kota dan berbagai tekanan kerja lainnya membuat para migran ini mengalami stres di tempat kerja, sementara keluarga yang menjadi tempat berbagi rasa jauh darinya. Tenangnya suasana kampung halaman, sejuknya alam pedesaan, ramahnya keluarga dan kerabat menjadi alasan yang tidak dapat ditolak untuk tidak mudik. Nostalgia kehidupan keluarga di kampung halaman juga menjadi salah satu obat mujarab untuk menghilangkan stres bagi masyarakat migran kota.


Karena itulah, para pemudik menjadi tidak peduli dengan banyaknya energi yang harus dikeluarkan, seperti harus antre berhari-hari untuk bisa mendapatkan tiket dan dalam perjalanan harus melewati medan yang berat serta tingginya risiko yang harus dihadapi, seperti kecelakaan dan kriminalitas. Mereka pun yakin bahwa dengan bersilaturahim di kampung halaman bersama anggota keluarga dan handai taulan, mereka akan menemukan kembali jati dirinya dan menimba kembali semangat dan kekuatan baru untuk menjadi penangkal dan senjata dalam menghadapi realitas kerasnya persaingan dalam kehidupan di kota nanti.


Dalam kesempatan ini saya akan menjelaskan sedikit tentang:

1.    Permasalahan yang ditimbulkan dari budaya mudik.
2.    Tujuan Mudik.
3.    Dampak Positif.
4.    Dampak Negatif.
5.    Kesimpulan.


Permasalahan yang ditimbulkan dari mudik antara lain:

1.    Besarnya jumlah pemudik yang puncaknya diperkirakan dua tiga hari menjelang Idul Fitri, telah menimbulkan permasalahan yang tidak mudah dipecahkan, karena dalam waktu yang hampir  bersamaan puluhan juta orang melakukan perjalanan mudik, melalui darat dengan kendaraan sepeda motor, mobil, kendaraan umum (bus) dan kereta api,  serta udara dengan kapal terbang, dan laut dengan kapal laut.

2.    Banyaknya kecelakaan lalulintas. .Dari tahun ke tahun, terus meningkat angka kecelakaan. Kecelakaan paling banyak ialah pengendara sepeda motor. Faktor kecelakaan banyak disebabkan oleh faktor manusia, kendaraan, jalan raya, dan cuaca. Walaupun tinggi angka kecelakaan, para pemudik tidak kapok  dengan bahaya maut yang dihadapi.

3.    Berutang dan menggadaikan barang demi mendapatkan uang untuk biaya mudik.   Ini merupakan permasalahan dan tantangan yang setiap tahun dijalani sebagian pemudik. Demi mudik ke kampung halaman, mereka berutang dan menggadaikan barang.

4.    Biaya perjalanan meningkat berlipat kali, karena semua moda transportasi menaikkan biaya menjelang dan sesudah lebaran Idul Fitri, sehingga para mudik sebagian besar menggunakan kendaraan sepeda motor, walaupun tingkat kecelakaan sangat tinggi dari tahun ke tahun.

Tujuan Mudik :

1.    Dorongan keagamaan yang telah menjadi budaya.  Begitu kuat tarikan keagamaan yang telah menjadi budaya, karena Islam mengajarkan bahwa mereka yang sudah berpuasa akan diampuni dosa-dosanya.  Akan tetapi, yang diampuni hanya dosa dihadapan Allah, sedang dosa kepada orang tua, saudara kandung, tetangga dan sekampung, tidak akan diampuni kecuali saling bermaaf-maafan dengan jabat tangan melalui silaturrahim antara satu dengan yang lain.
2.    Ziarah ke kubur, Telah menjadi budaya dikalangan masyarakat bahwa menjelang puasa Ramadan dan lebaran Idul Fitri, anak-anak, menantu, keluarga dan famili pergi berziarah ke kubur orang tua, kakek, nenek dan leluhur serta keluarga terdekat sambil mendoakan.   Itu tidak mungkin dilakukan kalau tidak mudik.bagi mereka yang berasal dari kampung.  Maka kesempatan lebaran Idul Fitri dilakukan ziarah ke kubur, disamping silaturrahim.

3.    Rindu kampung halaman.  Setiap tahun kerinduan kepada kampung halaman selalu diobati dengan mudik.  Ini adalah fenomena sosial yang menarik sebagai makhluk sosial,  rindu kepada asal usulnya dikampung halaman. Oleh karena itu, tantangan berat yang dihadapi untuk pulang kampung, tidak menjadi persoalan, mereka tetap lakoni dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.

4.    Bernostagiadikampung halaman. Masa kecil dikampung halaman adalah masa-masa yang paling indah dan menyenangkan. Maka setiap tahun, kenangan indah itu, selalu ingin diperbaharuai dengan pulang kampung sambil membawa keluarga seperti anak, menantu dan isteri supaya ikut menghayati suasana kampung di masa dahulu, baik isteri mapun suami.

5.    Unjuk  diri  kesuksesan di perantauan. Hal itu, ikut juga  mewarnai perasaan sebagian pemudik untuk pulang kampung.  Budaya pamer berlaku kepada semua tingkatan sosial. Maka momentum lebaran Idul  Fitri, pulang kampung dengan niat yang bermacam-macam, salah satu adalah unjuk diri (pamer).

Dampak Positif :

1.    Dampak ekonomi. Mudik para perantau telah menimbulkan dampak positif bagi ekonomi di kampung halaman.  Mereka pulang dengan membawa uang dan berbelanja telah mendorong perputaran ekonomi yang tinggi di kampung, sehingga para petani, nelayan dan pemerintah daerah mendapat manfaat ekonomi.  Mereka menyewa hotel dan penginapan, telah mendorong kemajuan kampung halaman karena membuka dan memajukan bisnis penginapan dan hotel .   Belum lagi, pemudik member sedekah, zakat fitrah dan zakat harta (mal) kepada keluarga dan penduduk di kampung halaman mereka.

2.    Silaturrahim (hubungan kasih sayang) antara pemudik dan penduduk kampung terbangun kembali, yang selama hampir satu tahun tidak pernah bertemu. Ini sangat positif untuk memelihara, merawat dan menjaga bangunan kebersamaan satu kampung.

3.    Persatuan dan kesatuan terjaga dan terpelihara. Bangsa Indonesia yang amat tinggi rasa keagamaan (religiousitas)nya, telah member andil yang besar untuk menjaga, merawat dan memupuk rasa persatuan dan kesatuan seluruh bangsa Indonesia melalui medium silaturrahim Idul Fitri. Hal ini, tidak bisa dinilai dengan pengorbanan harta dan tenaga yang dilakukan para pemudik.

4.    Pengamalan agama. Peristiwa mudik lebaran, juga  mempunyai dampak positif dalam pengamalan ajaran Islam, karena ditengah kemajuan yang membawa manusia kepada prilaku individualistik, yang enggan berhubungan dengan pihak lain dan merasa terganggu, melalui mediaum silaturrahim dalam rangka hubungan manusia (hablun minannaas) tetap diamalkan, dan bahkan telah menjadi budaya seluruh bangsa Indonesia.

Dampak Negatif :

1.    Pamer kemewahan, boros dan berbagai perilaku yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam dan tujuan puasa itu sendiri, di mana hasil puasa selama sebulan penuh, seharusnya semakin menghadirikan ketakwaan yaitu kedekatan kepada Allah dan sesama manusia yang sebagian besar masih mengalami kesulitan hidup. Mereka masih dihimpit kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.

2.    Bisa mengundang cemburu dan irihati para penduduk kampung.  Pulangnya para pemudik untuk berlebaran di kampung halaman, dengan memamerkan kemewahan misalnya mobil yang bagus, baju dan sepatu yang baru, bisa menimbulkan “cultural shock” (goncangan budaya), di mana orang-orang kampung atau desa meniru dan mengikuti cara hidup orang kota yang pulang kampung, misalnya berhutang dan atau menjual harta benda seperti tanah untuk membeli motor, mobil dan sebagainya sebagai asesori kemewahan.  Bisa juga orang-orang kampung terutama anak-anak muda, laki-laki dan perempuan merantau- dalam rangka mengikuti jejak para pemudik. Untuk mendapatkan harta dan kemewahan,  mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan harta, supaya tahun berikutnya, mereka juga bisa mudik dan menampilkan kekayaan dan kemewahan seperti saudara-saudaranya yang mudik tahun lalu.

3.    Memacu urbanisasi dan migrasi.   Mudik lebaran, juga bisa berdampak negatif yang memacu peningkatan urbanisasi,  yaitu perpindahan penduduk dari kampung atau desa ke berbagai kota di Indonesia.  Selain itu, juga dapat mendorong meningkatnya migrasi, yaitu perpindahan penduduk dari satu negara ke  negara lain.

4.    Dalam sejarah mudik lebaran, sudah terbukti bahwa usai mudik lebaran, semakin banyak orang kampung yang melakukan urbanisasi, meninggalkan kampung halamannya untuk mencari kehidupan di kota.

Kesimpulan :

            Peristiwa mudik lebaran yang telah menjadi budaya, harus terus dipelihara, dijaga dan dilestarikan, karena dampak positifnya lebih banyak ketimbang dampak negatifnya.Yang harus dilakukan ialah mengurangi dampak negatif mudik dengan melakukan.
1.    Meningkatkan kesadaran para pemudik bahwa keselamatan dalam perjalanan mudik adalah segalanya. Mereka yang akan mudik, dan sedang perjalanan mudik, diharapkan semakin hati-hati menjaga keselamatan. Jangan memaksakan diri dalam perjalanan, harus berhenti dan beristirahat secukupnya baru melanjutkan lagi perjalanan.  Pada tahun-tahun mendatang, mudik dengan kendaraan bermotor secara bertahap harus dihentikan dengan menitipkan kendaraannya di kapal laut, dan kereta api untuk dihantar ke kampung halaman. Suami isteri, dan  dan anak-anak, sebaiknya memilih kendaraan umum, kereta api atau kapal laut untuk keselamatan dalam perjalanan mudik.

2.    Pemerintah harus terus meningkatkan penyediaan transportasi massal untuk melayani pemudik. Selain itu, berbagai perusahaan yang peduli pemudik,  dari  jauh hari harus bekerjasama dengan media untuk memberitahu masyarakat tentang adanya penyediaan fasilitas mudik.

3.    Para pemudik harus membuat perencanaan paling kurang tiga bulan sebelum mudik sudah memesan tiket dan menghubungi perusahaan atau organisasi yang biasa menyelenggarakan mudik bareng secara gratis.

4.    Pemerintah terutama Kementerian Pekerjaan Umum RI, sudah saatnya membuat jalan yang berkualitas tinggi untuk jangka waktu yang panjang. Jangan seperti sekarang setiap tahun, jalan raya yang dilalui pemudik dilakukan tambal sulam dan tidak pernah baik.

5.    Sudah saatnya seluruh bangsa Indonesia terutama para pemudik meningkatkan disiplin dalam berlalulintas.  Pada saat yang sama, aparat kepolisian sebagai aparat penegak keamanan, menindak mereka yang tidak disiplin dalam berlalu lintas.

            Inilah sedikit penjelasan dari saya mengenai Budaya Mudik dalam Masyarakat Indomesia. Bila ada salah-salah kata dan kesalahan penulisan mohon di maafkan.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar